kenapa harus Fakultas Peternakan? kenapa harus IPTP?

Posted by FEBYNIA MUTIARA ZAINATHA FEBYNIA MUTIARA ZAINATHA on November 25, 2010 in Uncategorized |

Awalnya dari pengumuman PMDK IPB yang datangnya paling awal dibanding universitas lain. Pertama-tama ikut daftar PMDK karena coba-coba sama kaya yang lain. Pilihan pertama ITP, yang kedua GIZI. Karena kedua orang tua saya menyarankan untuk men-checklist pilihan “bersedia dipilihkan” akhirnya saya pun mengikuti saran kedua orang tua walau berat. Pertama yang saya ucapkan kepada kedua orang tua saya adalah ” gimana kalau masuk Fakultas Peternakan, kan kuotanya banyak?”. Akhirnya orang tua saya hanya menjawab “kemungkinan kan banyak dicoba aja dulu”. Akhirnya datanglah surat pengumuman dari IPB di bulan April. Pertama saya tau dari sahabat saya yang juga ikut mendaftar: Ade Ayu. Besoknya saya datang ke ruang BK (Bimbingan Konseling). Hal pertama yang terpikir adalah ” tuh kan bener diterima di Fakultas Peternakan”. Antara sedih dan senang waktu itu karena di sekolah saya yang berorientasi ke universitas yang “terkenal” itu udah mutlak ga bisa diganggu gugat. Sepanjang hari cuma ledekan atau becandaan aja yang saya dapat dari teman-teman SMA saya. Seperti “koq beternak aja pake kuliah segala?” dan lain-lain.

Sempat juga surat pengumuman saya sembunyikan dari orang tua dan pada hari ketiga saya akhirnya memberi tahu dengan menangis. Dari situ saya minta untuk tidak masuk IPB. tetapi satu kalimat yang saya dapatkan yang membuat saya sadar “ga selamanya yang kita mau baik buat kita”. Lagipula saya merupakan satu-satunya siswa yang diterima di IPB, dan wajib untuk mempertahankan nama baik SMA, saya menerima hasilnya.

Setelah masuk IPB dan memutuskan untuk memilih IPTP saya melihat prospek yang sangat baik bagi saya. seperti ketika masuk IPTP saya mengetahui teknologi peternakan seperti pasteurisasi susu, cara membuat sosis, dan lain-lain.

Selain itu saya juga semakin mengerti tentang kebutuhan Indonesia terhadap produk peternakan khususnya untuk Swasembada Daging 2014. Hal ini yang membuat saya menjadi yakin dan merasa bahwa saya jatuh di tempat yang “sebenarnya”. Seperti apa yang dikatakan ayah saya ” ga selamanya yang kita mau itu baik buat kita” dan saya mengartikannya “ga selamanya yang kita ga mau itu ga baik buat kita” ^.^

Copyright © 2010-2015 febynia mutiara zainatha's blog All rights reserved.
This site is using the Desk Mess Mirrored theme, v2.3, from BuyNowShop.com.